Penguatan Kapasitas Kader Eliminasi Tuberkulosis (TB) melalui Peningkatan Keterampilan Komunikasi Efektif di Nagari Guguak

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader eliminasi Tuberkulosis (TB) dalam melakukan komunikasi yang efektif kepada masyarakat sehingga mampu mendukung upaya percepatan eliminasi TB melalui peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku, serta penguatan partisipasi masyarakat. Komunikasi yang efektif menjadi salah satu aspek penting dalam membangun kepercayaan masyarakat, mengurangi stigma terhadap penderita TB, serta meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas.

Acara diawali dengan proses registrasi peserta yang dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara. Selanjutnya disampaikan sambutan dari Ketua Tim Pengabdian Departemen Sosiologi FISIP Universitas Andalas yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, fasilitas pelayanan kesehatan, dan masyarakat dalam mendukung program eliminasi Tuberkulosis. Dalam sambutannya juga disampaikan bahwa keberhasilan program eliminasi TB tidak hanya ditentukan oleh layanan kesehatan, tetapi juga oleh kemampuan kader dalam menyampaikan informasi kesehatan secara persuasif, komunikatif, dan sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai situasi dan tantangan eliminasi Tuberkulosis di Indonesia, peran strategis kader kesehatan dalam penemuan kasus, pendampingan pasien, serta pentingnya komunikasi interpersonal dalam kegiatan penyuluhan kesehatan. Tim pengabdian memberikan penjelasan mengenai teknik komunikasi efektif, strategi membangun hubungan dengan masyarakat, keterampilan mendengarkan secara aktif, penyampaian pesan kesehatan yang mudah dipahami, teknik menghadapi penolakan masyarakat, serta cara mengurangi stigma terhadap penderita Tuberkulosis.

Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti sesi diskusi interaktif dan simulasi komunikasi. Dalam sesi ini para kader diberikan kesempatan untuk mempraktikkan teknik komunikasi melalui permainan peran (role play) yang menggambarkan berbagai situasi di lapangan, seperti memberikan edukasi kepada keluarga pasien, melakukan kunjungan rumah, menghadapi masyarakat yang masih mempercayai informasi yang keliru mengenai TB, serta memberikan motivasi kepada pasien agar tetap menjalani pengobatan secara teratur. Tim dosen memberikan evaluasi dan masukan terhadap setiap simulasi sehingga peserta memperoleh pengalaman belajar yang aplikatif.

Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan, tanggapan, serta pengalaman lapangan yang disampaikan oleh para kader terkait berbagai kendala yang mereka hadapi dalam menjalankan tugas. Diskusi berlangsung secara aktif dan menghasilkan berbagai rekomendasi mengenai strategi komunikasi yang lebih efektif sesuai dengan karakteristik masyarakat Nagari Guguak. Para peserta juga menyampaikan bahwa pelatihan semacam ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan mereka dalam menjalankan fungsi sebagai kader eliminasi Tuberkulosis.

Sebagai bentuk evaluasi kegiatan, tim pengabdian melaksanakan sesi refleksi bersama peserta untuk mengidentifikasi pemahaman yang telah diperoleh serta menyusun rencana tindak lanjut. Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini, kader mampu menerapkan teknik komunikasi efektif dalam kegiatan penyuluhan, penemuan kasus, pendampingan pasien, serta membangun kerja sama yang lebih baik dengan tenaga kesehatan dan pemerintah nagari. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat dalam mendukung terciptanya lingkungan yang peduli terhadap pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis.

Kegiatan pengabdian ini berlangsung dengan tertib, lancar, dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Nagari Guguak serta seluruh peserta yang hadir. Kerja sama yang terjalin antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan dapat terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Kontributor,

Noliza Safitri, S.Kom

Share the Post: